KOLOKIUM SAINS INFORMASI FORUM INDONESIA-MALAYSIA

Ditulis oleh atin, Pada tanggal 2016-12-27


               Perpustakaan sebagai organisasi yang terus berkembang terus melakukan inovasi dalam mengemas informasi untuk dilayankan kepada masyarakat luas disertai dengan kehadiran pustakawan yang senantiasa mengembangkan ketrampilan baik soft skill maupun hard skill untuk mewujudkan total quality services. Dalam melakukan pengembangan inovasi, diperlukan asupan pengetahuan yang diperbaharui. Salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah dengan kolaborasi dan kerjasama baik lintas bidang maupun lintas negara untuk saling bertukar informasi tentang perkembangan yang terjadi.

      Kerjasama bidang perpustakaan lintas negara telah dilakukan oleh Program Studi Manajemen Informasi dan Perpustakaan  bekerjasama dengan Center for Southeast Asian Social Studies Universitas Gadjah Mada dimotori oleh Ida Fajar Priyanto, Ph.D menyelenggarakan Forum Indonesia-Malaysia kolokium sains informasi pada Selasa, 20 Desember 2016 bertempat di Aula Perpustakaan Pusat Univeritas Gadjah Mada. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Malaysia diantaranya Dr. Nor Edzan Nasir (University of Malaya), Dr. Che Zainab (UiTM), Dr. Nurul Diana Jasmi (UiTM), Dr. Jamizzan Jalaludin, Dr. Moh Rasyid, Dr.Nurul Akma, Dr.Abd.Wahab (UiTM) serta Dr.Khasiah Zakaria (UiTM), kemudian dari Indonesia mengahdirkan Dra. Luki Wijayanti, S.IP., M.Si (Universitas Indonesia) dan Dra.Wina Erwina, MA (UNPAD). Keynote speaker dan kuliah umum diberikan oleh Perpustakaan Nasional RI yang diwakili oleh Woro Titi Haryanti, MA. 4

       Forum Indonesia-Malaysia dibuka dengan presentasi dari Keynote Speaker Ibu Woro Titi Haryanti, MA yang memaparkan materi bertemakan Menggagas Masa Depan Perpustakaan Indonesia. Perpustakaan Nasional RI yang merupakan lembaga induk perpustakaan yang ada di seluruh Indonesia telah memberikan akses online dan mobile untuk mendekatkan Perpustakaan bagi pemustakanya, karena jangkauan wilayah layanan PERPUSNAS ke masyarakat seluruh wilayah Indonesia. Salah satu layanan berbasis mobile yang dimiliki oleh perpustakaan nasional adalah IPUSNAS yang memungkinkan pemustaka dapat mengakses perpustakaan melalui gadget yang dimiliki. Kemudian juga dibentuk KOMPAS (Komunitas Pembaca Setia) yang bergerak dibidang pengembangan perpustakaan di daerah-daerah dan sosialisasi gerakan gemar membaca buku.

        Dr.Khasiah Zakaria dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia sebagai narasumber kedua dalam paparannya tentang Information Literacy And Embedded Librarianship mengatakan bahwa pustakawan semestinya bisa berada di mana-mana yakni berada diantara pemustaka atau embedded librarian yang selalu bergerak menemui pemustakanya. Pustakawan seharusnya dapat menyampaikan suatu informasi sesuai pemahaman pemustaka, dengan menguasai lebih dari satu bahasa, termasuk bahasa isyarat. Andaipun pustakawan mesti duduk di ruangan, dia tetap melayani pemustaka dengan berselancar di dunia maya. Termasuk menyiapkan informasi yang akan disampaikan kepada pemustaka. Dengan membentuk karakter pustakawan yang selalu siap melayani informasi dan selalu mengatakan “I’m a Librarian, come here, I’II help you, I Know your needs”.

       Bidang Research Data Management di perpustakaan perguruan tinggi, Dr. Nor Edzan Nasir dari University of Malaya menyampaikan bahwa perpustakaan merupakan unit penting dalam reseach data management. Bukan lagi hanya masalah repository. Sebagai contoh di UM terdapat “UM in the News” yang mengabadikan berita tentang UM (termasuk foto kegiatan sebagai local content), baik itu berita positive maupun negative. Selain itu juga terdapat Student Repository.

         Sementara itu, Dra Luki Wijayanti, S,IP.,M.Si menyampaikan bahwa open acces melalui repository institusi akan menunjukkan kehebatan dari masing-masing institusi dalam paparanya mengenai Researh and Data Repository. Open Acces akan menghindarkan duplikasi penelitian, dan akan mempermudah penelitian sejenis atau kelanjutannya, meski permasalahan teknis yakni dalam teknologi informasi sudah siap masih saja terdapat kendala dalam open acces ini. Kendala itu antara lain adalah perpustakaan dan pustakawan tidak mempunyai kuasa “how to open”, dan semanagt sharing dari pemilik informasi masih enggan untuk berbagi, kendala lain yakni arogansi dari pemilik informasi karena khawatir karyanya akan di plagiat sehingga menyulitkan untuk diajak sharing resources.

         Dr. Wina Erwina dalam paparannya tentang Institutional Memory juga menyampaikan bahwa perpguruan tinggi hendaknya memiliki gallery, library, archieve, dan museum sebagai etalase ilmu pengetahuan. Eta;ase tersebut akan menghasilkan knowledge melalui system informasi. Jika perpustakaan hendak lari menuju konwledge tersebut, maka yang dibutuhkan adalah kolaborasi dengan profesi lain dan ikut terlibat dalam aktivitas profesi lain (embedded librarian).                                                   

       Dalam kesempatan tersebut, kepala perpustakaan Universitas Muhammadiyah Magelang Jamzanah Wahyu Widayati, S.I.Pust turut hadir menjadi peserta bersama pustakawan-pustakawan yang berasal dari seluruh Indonesia dan Malaysia. Jumlah peserta sebanyak 100an orang memenuhi aula Perpustakaan Universitas Gadjah Mada tempat diselenggarakannya acara. Kolokium dimulai pada pukul 09.00 WIB dan berakhir pada pukul 13.00 WIB.

Pengunjung


Login Mahasiswa
New Arrival
Pengumuman